
Kunang-kunang ini dari spesies Pyractomena angulata, satu dari
175 spesies kunang-kunang yang ada di Amerika Serikat. (karya
Arwin Provonsa, Purdue University, Department of Entomolo |
Mengapa kunang-kunang bisa membawa ‘lampu’ ke sana
kemari tanpa kepanasan?
Para peneliti tertarik akan fenomena tersebut.
Karena, cahaya bola lampu listrik yang dikenal selama ini bila menyala
maka lama-kelamaan akan memanas. Dilihat dari efisiensi energi,
bola lampu listrik temuan Edison hanya mampu menghasilkan cahaya
sekitar 10% dari seluruh energi listrik yang dialirkan, sebagian
besar sisanya berubah menjadi panas. Ini menyebabkan cahaya lampu
listrik panas. Sebaliknya, organ penghasil cahaya dalam tubuh kunang-kunang
melepaskan sekitar 100% energi berupa cahaya. Ini menjadikan cahayanya
dingin. Bayangkan jika cahaya kunang-kunang panas mirip lampu pijar,
mereka mungkin akan terbakar dan mati.
Cahaya kunang-kunang dikeluarkan oleh organ khusus yang tersusun
atas sel-sel penghasil cahaya yang disebut fotosit. Organ ini terletak
pada ruas ke-4 atau ke-5 dari tubuhnya. Kerlipan cahaya kunang-kunang
merupakan hasil reaksi kimia yang melibatkan zat kimia bernama luciferin
yang dihasilkan sel-sel penghasil cahaya. Melalui serangkaian tahapan
reaksi kimia, luciferin dengan bantuan enzim luciferase dan beberapa
zat tertentu bereaksi membentuk sejumlah zat kimia baru dengan melepaskan
hampir 100% energi dalam bentuk cahaya. Energi yang terbuang sebagai
panas sangat sedikit sekali. Bandingkan dengan lampu listrik buatan
manusia.

Selain bersinar, lampu listrik buatan manusia memancarkan energi
panas yang besar. Sebaliknya, reaksi kimia dalam tubuh kunang-kunang
melepaskan sekitar 100% energi berupa cahaya. |
Untuk menjadi bentuknya yang sekarang, lampu pijar harus melalui
proses penelitian panjang, yaitu 50 tahun lebih. Perkembangan bola
lampu listrik dimulai dari sejak Sir Humprey Davy di tahun 1811.
Thomas Alva Edison berhasil mengembangkannya menjadi bola lampu
listrik di tahun 1878. Saat itu Edison mengirim orang ke berbagai
penjuru dunia untuk mencari bahan terbaik sebagai kawat pijar (”filamen”)
bola lampu. Ia mencoba tak kurang dari 6000 bahan kawat atau serat,
termasuk dari tumbuhan seperti bambu, sebelum akhirnya ditemukan
filamen awet yang tidak mudah terbakar dalam bola kaca tak-beroksigen.
Begitulah, sejak Thomas Edison hingga kini, tak ada teknologi lampu
listrik yang menyamai lampu kunang-kunang yang dingin. Diperlukan
kecerdasan dan kerja keras banyak orang untuk menemukan bola lampu
listrik terbaik. Lalu kecerdasan siapakah yang menciptakan cahaya
dingin kunang-kunang? Mungkinkah kunang-kunang sendiri yang melakukan
penelitian, mencoba-coba ribuan zat kimia, dan akhirnya menemukan
sendiri lampu hebatnya? Mustahil, sebab ia makhluk tak berakal.
Lagi pula, kunang-kunang dan cahayanya harus sudah ada sejak pertama
kali ia diciptakan. Sebab, tanpa cahayanya, kunang-kunang takkan
mampu berkembang biak dan sudah punah dari dulu. Semua ini mengarahkan
kita pada kesimpulan: kunang-kunang dan cahayanya bukanlah terbentuk
setahap demi setahap dengan sendirinya, melalui peristiwa alamiah
belaka, dan tanpa penciptaan cerdas sengaja. Sedari awal, kumbang
bercahaya ini mestilah diciptakan secara sempurna, lengkap dengan
cahayanya oleh Pencipta Mahacerdas. Dialah Allah, sebaik-baik Pencipta.