Cahaya Islam
Rabu, 22 April 2020
Dunia itu Murah dan Sementara, Akhirat itu Mahal dan Selamanya
Sabtu, 11 April 2020
Mensyukuri 3 Anugerah Luar Biasa dari Allah
Saudaraku mari sejenak merenungi ayat ini. Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala berfirman bahwa Dia telah memberikan kita tiga anugerah yang luar biasa : pendengaran, penglihatan dan hati nurani. Ibnu Katsir berkata dlm tafsirnya bahwa hati nurani dlm ayat ini berarti pemahaman. Tiga karunia ini kita gunakan hampir dlm setiap detik, kecuali ketika kita tidur. Bagaimana jika kita hidup tanpa ketiganya? Cobalah tutup mata Anda semenit saja dan rasakan, maka itulah yang terjadi jika kita hidup tanpa penglihatan. Banyak orang yg tidak seberuntung kita dan mengalami kebutaan. Lalu coba tutup telinga Anda selama semenit, maka itulah rasanya hidup tanpa pendengaran. Di luar sana banyak orang yg tuli. Lalu bisakah kita bayangkan kita hidup tanpa memiliki pemahaman? Inilah yg terburuk, karena hal itu yg terjadi pada orang yg gila. Mereka tidak bisa lagi hidup seperti orang normal. Adakah kita sudah bersyukur dengan porsi yang tepat untuk ketiga nikmat luar biasa ini, yg Allah mengaruniakan pada kita secara gratis, tanpa kita membayar sepeserpun.
Kemudian mari kita renungkan, bagaimana Allah menciptakan mata kita yang begitu rumit dan sempurna, yang lebih bagus dari kamera manapun juga. Lalu pendengaran kita yang bisa mendengar segala macam suara. Lalu keduanya terhubung dengan otak kita yang demikian sempurna, sehingga kita bisa memahami keadaan sekitar kita dan melakukan aktivitas. Fatabaarakallahu ahsanal khaaliqin. Maka terpujilah Allah, sebaik - baik Pencipta. Allah berfirman dlm surat At Tin ayat 4:
لقد خلقنا الإنسان في أحسن تقويم
"Kami benar benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik".
Di akhir ayat ini Allah berfirman bahwa sedikit sekali kita bersyukur atas 3 nikmat ini. Maka mari kita berintrospeksi, dan lebih bersyukur kepada Allah dengan cara beribadah kepadanya. Sebagaimana dlm hadits riwayat Bukhari, Rasulullah ketika ditanya sahabat mengapa beliau shalat malam hingga kaki beliau bengkak, padahal semua dosa beliau pasti diampuni dan masuk surga. Beliau menjawab : "Bukankah sudah sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur?". Dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa bersyukur tidak hanya dengan lisan, tapi juga dengan ibadah. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang bersyukur dengan cara beribadah dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Wallahu waliyyuttawfiq. Wallahu a'lam bisshawab.