Senin, 23 Maret 2020

Maksiat Mengecoh Manusia, dan Kenikmatan Sejati terdapat Pada Ibadah

Ibnu Rajab al Hanbali rahimahullah berkata : Yang membuat seseorang berani mengerjakan hal yang haram & maksiat adalah kenikmatan yang ada dalam perbuatan itu. Lalu dia berasumsi bahwa dia akan mendapatkan kenikmatan dan terhindar dari akibatnya. Ia berpikir Allah akan memaafkan. Beliau melanjutkan “Dan ini adalah salah satu kekeliruan terparah di dunia. Faktanya yang terjadi adalah kebalikannya, dosa selalu diikuti dengan kegalauan, rasa sakit, sempitnya dada dan kerasnya hati”
Yang artinya dosa akan menyerang hati, menyerang kebahagiaan seseorang. Ia tidak bisa tenang, gelisah, tidak nyaman, paranoid.
Lebih lanjut Ibnu Rajab al Hanbali rahimahullah berkata : “Orang yang mengerjakan hal haram akan kehilangan kebahagiaan hati, manisnya ketaatan, dan cahaya dari iman. Semua itu tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan sesaat dari maksiat”
“قال مالك ابن دينار “ما ضرب عبد بعقوبة أعظم من قسوة القلب”
Selaras dengan hal ini, berkata Malik bin Dinar rahimahullah “Tidak ada hukuman yang lebih tragis bagi seseorang dibanding kerasnya hati”. Kerasnya hati akan menghilangkan kebahagiaan dari diri seseorang. Sebagaimana firman Allah dalam surat Thaha ayat 124 :
“قال الله تعالى : “وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا
Artinya : “Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit”
Berkata Ust Nuzul Dzikri hafizhahullah : “Allah tidak berkata org itu akan miskin atau sakit secara fisik. Bisa jadi ia kaya & sehat tapi di dalam hati, ia menderita. Hal ini pasti terjadi karena Allah, Pencipta Manusia dan Alam Semesta yang mengatakan. Misal, jika seorang presiden saja memutuskan seseorang akan dihukum, maka orang itu akan dihukum. Apalagi jika Pencipta dan Pemilik Alam Semesta sudah memutuskan sesuatu. Seratus persen akan terjadi”
Hasan al Bashri rahimahullah berkata: “Orang yang melakukan perbuatan haram akan mendapatkan azab di dunia dan akhirat. Azab di dunia yaitu buta agama, kegelapan dan kesempitan dalam hati, kelemahan fisik, musibah – musibah dan ketidakbahagiaan”
Beliau melanjutkan : “Dan di akhirat ia akan mendapat murka dari Allah dan siksaan api neraka”
“Sedangkan ketaatan pada Allah akan mendapatkan ganjaran di dunia dan akhirat”
“في الدنيا البصر في الدين والنور في القلب والقوى في البدن مع الصحبة الحسنة”
“Di dunia ia akan mendapatkan kenikmatan dalam menjalankan ketaatan, cahaya dalam hatinya, kesehatan badan dan hanya orang-orang baik yang berada di sekitarnya”
Banyak orang terkecoh dengan kenikmatan maksiat, karena maksiat kelihatannya nikmat dan cocok dengan syahwat manusia. Sebagaimana disebutkan dlm hadits bahwa neraka dihiasi dengan syahwat.
Maksiat pasti pertamanya lezat, tapi ujungnya sengsara dan kesedihan di dunia. Lebih mudah untuk menghindari maksiat dengan tidak pernah mencobanya, sehingga tidak tahu bagaimana rasanya. Karena jika sudah mencoba akan ketagihan. Sebagaimana para ulama mengatakan : “Satu maksiat jika dilakukan akan mengundang saudara – saudaranya yang lain”
Banyak orang menganggap maksiat akan membawa bencana dlm dunia : karier menjadi buruk, rezeki berkurang, perceraian, dan seterusnya. Terkadang hal-hal diatas tidak terjadi pada ahli maksiat karena Allah menghukum mereka dengan istidraj (diabaikan oleh Allah).
FAKTANYA, akibat terburuk dari dosa dan maksiat adalah ia merusak kebahagiaan seseorang dalam hatinya. Ia akan menjadi gelisah, merasa bersalah, sedih dan tidak tenang. Ia harus melakukan maksiat lain dan menghamburkan uang untuk mengobati kekosongan jiwanya dan kegelisahannya.
Serta ia akan kehilangan kesempatan menikmati nikmat tertinggi di dunia : yaitu nikmat khusyu’ dalam ibadah. Hal ini dibenarkan oleh para ‘ulama.
قال مالك ابن دينر : ما تنعم المتنعمون بمثل ذكر الله
Berkata Malik bin Dinar rahimahullah : Para pecinta kenikmatan tidak akan pernah merasakan hal yang lebih nikmat dari dzikrullah (yang khusyu’)
قال أبو سليمان : أهل الليل في ليلهم ألذ من أهل اللهو في لهوهم
Berkata Abu Sulaiman rahimahullah : Para ahli tahajjud dalam shalatnya merasakan nikmat yang lebih lezat daripada para ahli maksiat dalam maksiatnya.
Ust Nuzul Dzikri berkata “Yang menjadi masalah adalah, kebanyakan orang tidak mengerti hal ini. Mereka hanya melihat secara fisik saja, dan tidak melihat apa yang terjadi di dalam hati.”
Semoga Allah memberikan tawfiq untuk kita agar terjauh dari maksiat dan memberikan hidayah bagi kita agar dapat menikmati manisnya iman dan ibadah. Wallahu waliyyuttawfiq.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar